Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

OPINI: Kampus Pencerahan (Universitas Muhammadiyah Sorong Titik Simpul Wujudkan Intelektual Papua)

Oleh: Bustamin Wahid
Pedagogik dan Petani Tomat di Kota Sorong


Statis memang dimensi dari sosial, tetapi tidak berdimensi progresif
(Arnold Toynbee).*



Muqaddimah

detiKawanua.com - Nalar dan imajinasi terasa dipanasi dengan fenomena sosial ditanah Papua, sebagai praktisi pendidikan melihat dan melacak keberadaan dan kelangsungan aktifitas sebuah kampus. Sebelum melangkah lebih jauh penulis mengutip pendapat seorang ilmuan lulusan doctor di Leiden University Basri Amin, bahwa kampus adalah akumulasi perspektif dan akal sehat dalam merumuskan sebuah peradaban. Menjadi relevan jika dalam kajian ini kita mencoba mengulas posisi dan pentingnya intelektual, gerakan intelektual bukan sekedar definisi atau rangkaian kata indah, tetapi memiliki makna baik itu secara ideologi, pengetahuan dan keyakinan. Jika runut  secara konsep penulis bisa meminjam telorannya Sertillanges (baca: Basri Amin)

dalam karya klasiknya, The Intellectual Life; Its Spirit, Condition, dunia intelektual bisa dilihat dari apa-apa yang dikerjakan oleh mereka yang dikategorikan intelektual itu. Kesimpulan Sertillanges, bahwa intelektual itu adalah pekerjaan yang sunyi kebiasaan mengumpulkan sesuatu tanpa henti; keinginan besar menolak dan menjauhkan dari hal-hal yang materialistik; keinginan besar memisah-misahkan sesuatu tanpa emosi yang menyala-nyala dalam mengenal banyak hal; mensyaratkan kepekaan dan jiwa yang tidak mudah menyerah karena tarikan hasrat-hasrat egoistik dan keinginan diri; intelektual adalah turunan dunia ide, dunia kreatif dan sebagai pekerjaan dalam “keabadian penciptaan”.

Pertarungan eksistensi sebagai wujud ada dan menjadi dalam pandangan Ali Syariati, terus diuji demi kualitas sebuah identitas dan institusi.  Kampus yang bertahan dan menunjukan kualitas sebagai salah satu kampus swasta tertua di tanah Papua dan terus bermetamorfosa untuk menemukan eksistensi sejatinya. Kajian filsosofis eksistensialisme Sosok Sarter, eksistensi manusia sebagai bentuk dari “ontologisme radikal” dan “oposisi biner”, oposisi biner tersebut tampak melalui pembagian menjadi 'etra en soi' berada dalam dirinya dan 'etre pour soi' berada bagi dirinya.

Benturan, diskursif pemikiran pun dihidupkan di kampus ini. Dengan misi besar untuk membangun human resources (SDM) dan menjadi simbol keadaban, perspektif kampus menjadi salah satu rahim dan konsisten untuk membina manusia baik dari aspek pemikiran dan spritualitas. Ini tidak bisa terlepas dari tujuan besar kampus bersimbol Muhammadiyah, tiada simbol tanpa makna, semua simbol akan selalu bermesraan dengan makna yang telah dirumuskan. Tak hanya sebatas melahirkan skeptisisme yang tak bertepi dan tak berujung dan kerajaan ide semata tetapi ini bagian dari pada praksis membumi. Konten ini jika kita tilik dari perspektif M. Foucault, bagian kekuasaan dan dinasti pemikiran dalam institusi yang mencoba mendorong publik kepada fase dan faksi pencerahan. Dan memiliki ruang dan relasi pada institusi-institusi sosial. Konklusi terjemahan tentang kerajaan intelektual, bagian dari pada kekuasaan yang memiliki relasi kekuasaan yang imanen dalam ruang lingkup dimana kekuasaan beroperasi dan menjadi.

Baca juga:  OPINI: Pemimpin Harapan (Catatan dari Kampus)

Tridharma yang selalu digemborkan dan diwujudkan dalam laku nyata untuk seluruh perguruan tinggi, kampus muhammadiyah lebih dari itu dengan akumulasi pemikiran menghasilkan caturdharma dengan penambahan nilai-nilai spritualitas sebagai penyempurna nilai pembelajaran, penelitian dan pengabdian. Dentuman dan akumulasi pemikiran ini terjadi peristiwa perjumpaan pemikiran dan pandangan teologis dalam kampus ini. Kampus yang membina begitu banyak mahasiswa/i dengan perbedaan identitas yang luar biasa, tetapi bisa menyatukan dan terintegrasi dengan suatu kekuatan intelektual. Ragam dan corak identitas tidak menjadi alasan perlawanan, musuh tetapi perbedaan identitas menjadi warna dan ragam dalam pemersatu. Gagasan pemersatu ini dalam memperjuangkan sejarah baru atau metamorfosa dari Gerakan Sosial Baru (GSB). Gerakan sosial barus berbasisi solidaritas sosial/asabiah untuk mencerdaskan generasi secara kolektif menuju pada kulitas hidup dan cita-cita yang futuruistik.

Gerakan dan upaya untuk merumuskan sosok dan subjek yang berkarakter dan wawasan luas, sadar dan yakin bahwa masih relevansi kecerdasan subjek dan kualitas individu bisa merubah dan menggerakkan perubahan besar (Neo-Historis), jika kita menyimak realitas. Filosof ternama, Thomas Carlyle, sejarah dibentuk dan diciptakan oleh individu-individu cemerlang. Pandangan ini diinterpretasikan sebagai sosok manusia besar.  Pertanggungjawaban eksistensi sebagai makhluk terikat secara lahiriah dan filosofis.Ketika manusia diberikan amanah sebagai halifah dimuka bumi, atau diterjemahkan oleh tokoh eksistensialisme Pranci, J.P.Sartre, sebagai makhluk yaramjada yang dilemparkan dimuka bumi sebagai pemimpin alam bumi.

Merumuskan Raksasa Intelektual “Sebuah Spirit”.

Sub-penulisan ini tidak merasa lebih dan angkuh dalam pengakuan bahwa kita adalah besar dan hebat, tetapi simbol dan narasi ini menjadi spirit dan nilai yang bisa diambil dalam perdebaran dan perbuatan pemikiran. Corak pemikiran adalah kemerdekaan berfikir untuk menghasilkan konklusi baru, institusi yang dengan gigih melahirkan generasi yang tidak bermental domba (mental budak). Percikan dan upaya untuk merumuskan generasi baru dengan nilai-nilai kenabian, tentu kita tidak berada pada eksistensi para nabi, namun kita membangun tradisi dan meniru perilaku dan cara berfikir para Nabi. Perspektif The Tao of Islam Sachiko Murata, melihat perkembangan peradaban dilihat dari dua aspek penting yakni aspek telogis dan aspek kosmis,  itu tidak lain menuntut hakekat manusia untuk perubahan. Pelbagai kesulitanuntuk menuju pada domain kesempurnaan sebagi mahluk realitas dialektika. Sebagiaman tafsir, A. Shariati anak M. Taqi Shariati, manusia adalah mahluk perjalannan menuju kesempurnaan. Memang harus disadari bahwa puncakan tertinggi sebagi sosok intelektual yang ditunjukan dengn kualitas kita yang bisa keluar dari pakem ide-ide  lama yang tidak relefan dan mampu melahirkan ide-ide baru dan mampu berpergian dari hegemoni status quo.Toleran dan lafas peradaban Arnold Toynbee, peradaban itu pergeseran dari hal dan ruang statis menuju dinamis. Disitulah letakn hukum perubahan dan harus dilakukan oleh aktor, samahalnya dengan novum A. Gramschi, History Blook itu harus dilakukan oleh sosok intelektual kolektif. Bicara intelektual kita pinjam pendapat penulis berkelahiran Halmahera Muliansyah A.Ways, sebagai seorang intelektul terutama aktivits pergerakan tidak boleh ada dalam penjarah doktrin teks sematan, akan tetapi bisa melepaskan diri dan berada pada posisi intrepetasi kritis “hermeonetika kritis”. Menjadi penting struktur logika dalam menjemahkan alam intelektual.

Tinjau juga: Artikel: Implikasi Sekularisme dan Dampaknya Terhadap Psikologi Agama

Spektrum pemikiran dan kemerdekaan berfikir telah terbukti dalam sejarah,  Syafii Maarif, katakan bahwa perjalanan sejarah KH. Achmad Dahlan selain sebagai sosok intelektual muslim membuka diri dan ekspansi gerakan pemikirannnya sampai pada generasi Budi Utomo (BU) dan tercatat sebagai anggota pada tahun 1909. Organisasi Budi Utomo (BU) juga membantu dalam persiapan pembentukan Muhammadiyah. Jika kita belajar tentang fakta sejarah, sosok Dahlan juga bergabung dengan Sarekat Islam (SI) 1915 sebagai penasehat urusan agama. Muhammadiyah adalah karakter dan alarm besar yang setiap saat membangunkan mentalitas generasi, banyak terpikau dalam pemikiran dan mengundang hasrat para intelektual untuk bergabung, seperti Hi. Agus Salim, tercatat sebagai anggota Muhammadiyah walau tokoh ini adalah salah satu pimpinan SI. Sosok dan beberapa pemikir ini menjadi referensi dan keintiman pemikiran, ketertarikan pemikiran untuk berkecimpun dalam gerakan Muhammadiyah. Tidak kaku dan konservatif dalam pengetahuan Muhammadiyah selalu terbuka dan menerima pemikiran Barat.

Akses kajian dan pemikiran intelektual ke-Muhammadiyah-an selalu berhubungan dengan penggagas, penulis sependapat dengan M. Masud Said, katakan bahwa intelektual Muhammadiyah berbicara selalu berhubungan dengan constant gagasan, autentisitas gagasan dan transformasi gagasan. Pendapat parah tokoh ini yang mendorong eksistensi Muhammadiyah selalu bertahan. Tak terlepas dari itu semangat dalam mendorong dan merumuskan gagasan besar ini membutuhkan analisa dan perjuangan pemikiran Achmad Dahlan (AD) yang dibagikan dalam dua gerakan besar yakni : (1) Implementasi dan pelembagaan pemikiran Kiai Achmad Dahlan; (2) Pengembangan pemikiran Kiai Achmad Dahlan.

Pandangan ilmuan dan intelektual Muhammadiyah menggambarkan karakter dan pluralnya pemikiran. Gambaran pemikiran untuk mendorong perubahan dan mengikuti zaman tanpa mengabaikan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Achmad Dahlan, gerakan ke-muhammadiyah-an meretas pembuktian dengan membangun lembaga pendidikan, rumah sakit, dan gerakan sosial. Semangat mencipta ini bukan henti pada pembentukan tetapi pengembangan. Kultur evaluasi pun sudah menjadi bagian dari pada sejarah perubahan, karena substansi dari pada audit adalah upaya kritis untuk menilai diri sendiri, sejauh mana kontribusi sebuah Kampus, model dan cara ini lah martabat dan kualitas perguruan tinggi dapat diselamatkan dengan selalu ada pada nas keadaban. Melahirkan intelektual bukan perkara mudah, tetepi membutuhkan karakter pemimpin Universitas (UM-Sorong) yang konsisten dan berkemajuan dan selalu memihak kepada atmosfir penciptaan dari berbagai disiplin ilmu. Jika di Timur Indonesia relatif harus diakui terutama di anah Papua yang masih berbeda dengan beberapa daerah di tanah Jawa dan Celebes terutama kota-kota pendidikan (Yogja, Malang, Jakarta, Bandung, Makassar, Gorontalo), bukan berarti kita kalah dan lesu tetapi prestasi yang mereka miliki kita jadikan roh dan spirit dalam perumusan peradaban kedepan. Harus diakui bahwa peradaban bangsa hanya diselematkan dan dibangun dengan tradisi mencipta. Salah satu imajinasi untuk membangun tradisi mencipta itu adalah kampus (UM-Sorong).

Tradisi menciptakan tersebut terjadi jika ada sinergitas dari semua warga kampus (mahasiswa/i, pengajar, staf kampus, pejabat kampus dan stakeholders), dengan memperhatikan beberapa issu strategis :

Grafik: Issu Strategis


 
 Sumber:Samsu Diolah Penulis  
   

Rumusan dan akumulasi strategis ini memiliki hasil dan membentuk etos keilmuan bagi generasi muda.Bagi saya hal ini sudah dirumuskan dan dicanangkan oleh Universitas Muhammadiyah Sorong terutama itu tergambarkan dalam sosok pemimpin yang selalu menghasrati perubahan. Etos keilmuan menjadi value generasi, urgensinya dengan pendapat J. Habaermas, dalam Knowledge and Human Interest, ada tiga hal; pertama, Interpretation Knowledge; kedua, Instrument Knowledge; ketiga critical/emansipasi Knowledge. Dalam konten ini eksistensi dan sahadat pendidikan sebagai hal yang penting sebagai gagasan dan metode alternatif, sedangkan hal ini sama dijelaskan Thomas Khun, Structural of Scientific Revolution, bicara masalah pergeseran dan perubahan paradigma ilmu pengetahuan demi melacak dan menemukan roh kajian yang sesuai dengan realitas. Karena perubahan ilmu pengetahuan itu bagian adalah penggugatan paradigma satu dengan paradigma lain, corak ini bagai dari motif efek kode dialektika.

Nada dan lantunan diskusi paradigma ini sering kali didengungkan pada saat diskusi-diskusi lepas dan mengidiologis di lingkungan kampus (UM-Sorong). Pendapat Dr. M. Ridha dalam kajian revolusi paradigma tentu akan menemukan dimensi, dimensi adalah bagian dari model untuk menjelaskan pembaharuan ilmu pengetahuan. Kode dialektika ini tak akan berhenti, pembobotan dan kemanjaan kajian pengetahuan pemikir-pemikir Islam, kewibawaan mimbar Jumat, penulis tertarik dengan hotbah Dr. Muhammad Ali (Warek I UM-Sorong), yang di satu kesempatan menyinggung tentang konsep manusia insani dan substansi haji dalam perspektif Ali Syariati. Elaborasi keilmuan di ruang publik sakral (masjid) adalah menjadi hal yang penting dalam menawarkan lokus spritualitas sebagain bentuk dari antitesa baru dalam menggugat perspektif Cartesiaan dan Newtonian.

Pergulatan paradigma atau dalam bahasa penulis sebagai kode dialektika, tak pernah henti dan statis, jika itu terjadi maka manusia berada dalam kematian budaya.Revolusi paradigma pun semakin mengkompleks, penguatan dan kritik atas hasil pemikiran, hasil riset Feritjof Capra, bahwa Cartesian-Newtonian yang sangat mekanistik.Mereka menawarkan kepada peradaban kemoderenan sebagai dunia yang mati, yakni lenyapnya pemandangan, suara, rasa, jiwa, kesadaran, dan rohani telah di abaikan oleh wilayah ilmiah.

Seharusnya solusi dalam konteks kemoderenan, Gagasan tentang peradaban spiritual menjadi hal penting dalam sandaran generasi intelektual dan praksis konsep ditawarkan muhammadiyah di amal usaha pendidikan. Tafsir liberalnya generasi mudah jangan pernah menitipkan perubahan sama orang lain, dan jangan pernah melarang generasi mudah untuk berubah. Jadi tidak ada relefansi dengan apa yang menjadi pendapatnya Daniel Bell, The End of Ideology (Akhir Ideologi), sesungguhnya percaturan pemikiran dan konsep setiap subjek selalu menyatu dengan dimensi idologi yang dia yakini. Tradisi intelektual di Eropa  pada abat 19 terutama di prancis terjadi polemik pendapat terkait intelektual, dua tafsir. Ada pandangan bahwa intelektual adalah pemimpin yang tidak mampu secara praktis yang tidak mau menghadapa masalah sehari-hari yang dihadapi masyarakatdalam berbangsa dan ber-Negara. Di lain pihak intelektual sebagai pembela nilai dan moral sistem dalam mendorong sistem politik dengan semangat demokrasi dan publik liberal. Konsep kajian intelektul ini sangat terikat dengan de facto sosial yang telah terjadi pada saat itu, terlebih lagi kasusu Kapten Derayfus. Kasus Derayfus ini berada pada ruang pembela dan penentang dan melahirkn diskursus berdasarkan pada wilayah pembenaran dan kebenaraan, hal menegaskaan bahwa diskursus intelektual itu tetap berada pada ruang dan nas idiologi.

Melahirikan sosok intelektual, memiliki banyak kajian filosofis. Penulis dalam hal ini menawarkan sebuah revolusi ontologis (perubahan pemikiran),Pertama: kemerdekaan berfikir, publik civitas academika diberikan ruang dan kesempatan untuk mengelaborasi dan menafsirkan realitas dengan instrument pengetahuan baik itu  dari kajian, diskusi, dan hasil silogisme ilmiah; Kedua, kebebasan akademik. Lokus ini menjadi penting berkaitan dengan keleluasaan mahasiswa untuk mengejar dan melacak eksistensi dari etos akademik, melahirkan aliran dan faksi pemikiran yang tak keluar dari nilai-nilai keilahian (transendensi).Dua tawaran ini kemudian dicangkang dengan prinsip-prinsip caturdarma (pembelajaraan, penelitian, pengabdian dan spiritual).

UM-Sorong dalam Wujud being dan becoming

Tafsir dan berlogika keras dalam menerjemahkan eksistensi tidak akan terlepas dari perjalanan dan episode sosial yang panjang. Konten ini adalah bagian dari historical blok dalam perjalanan suatu institusi pendidikan, STIA AL AMIN nama pemula, kemudian berubah nama menjadi Universitas Al-Amin Muhammadiyah, fase itu mengharapkan suatu perubahan besar kembali bermetamorfosa menjadi Universitas Muhammadiyah Sorong (UM-Sorong) pada tahun 2012. Silihberganti nama tidak akan mengabaikan hal yang substansi dalam perjuangan untuk mencerdaskan anak bangsa. Esensi dari perubahan ini bagian dari pada mempelajari masa lalu dan memetakan masa depan. Keparipurnaannya suatu institusi memberikan referensi dan pembelajaran besar, tidak hanya berposisi sebagai bashartetapi  sebuah harapan besar sebagai posisi civitas yang mampu menawarkan gagasan alternatif, memberikan basis epistimologi kajian yang beragam kepada mahasiswa/i.

Menyinggung UM-Sorong, tergambarkan  institusi yang kerja keras dalam membangkitkan gerakan perubahan di Tanah Papua. Kampus (UMS) yang eksistensinya tidak diragukan dalam gerakan pencerahan, semangat riset dan pengajaran dan diselimuti dengan kebebasan akademik sehingga kampus ini menjadi pembeda dengan istitusi lain. Aktifitas ini lah menjadi pembeda dan eksistensi-Nya diakui sebagai ibu yang memberi, ibu yang melahirkan, yang peduli membesarkan pengetahuan “Almamater”. Kampus dengan semangat dan energi besarmemiliki dasar epistem dalam kajian yang sanagt berbeda, diskursus ide dan relitas dan juga nuansa kritis yang dihidupakan sabagai keparipurnaannya sembuah institusi keadaban, karena sesunggunya kampus bukan sebagai institusi profit. Tetapi kapus mempertajam nalar, entah  nalar bayani, nalar irfani dan nalar burhani sebagai tautan yang bagian dari pada spektrum sosial membangun kualitas manusia.

Universitas yang mendorong kebebasan berfikir subjek, individu, warga kampus secara umum. Institusi ini memberikan penguatan-penguatan pengetahuan, pengalaman dan pencerahan kepada generasi muda dalam menghadapi alam realitas. Kampus tidak hanya memberikan kesadaran/relitas ide saja tetapi akses dan kerja-kerja rill menjadi hal yang sangat penting terbukti banyak alumni telah terserap dan digunakan kemampuannya. Kebanggaan dan kehormatan tersendiri, permintaan tenaga kerja/SDM dari kampus ini untuk mengisi kekurangan dan kelemahan dari berbagai institusi baik itu swasta dan institusi negara. sumberdaya manusia (SDM) yang disiapkan bukan saja kekuatan yang pandai berorasi di atas podium tetapi generasi yang bisa mengelaborasi pekerjaan karena sesungguhnya itu pun menjadi gugusan-gugusan mencipta. Unsur mencipta menjadi hal penting untuk melahirkan perubahan, koor pembicaraan tersebut senada dengan pandangan A. Giddens, tentang tiga hal penting dalam mendorong perubahan besar terutama problem yang sudah berstruktur, pertama, interaksi komunikasi; kedua, kekuasaan; ketiga, moralitas. Ketiga poin menjadi hal penting dalam dan menjadi tawaran dengan maksud untuk merubah habitus yang a-historis.

Institusi yang memiliki label dan nama besar tentunya memiliki agenda dan rutinitas akademis yang besar pula. Tradisi kolokium, simposium, dialog, debat, seminar, riset,menulis, pengabdian dan ditunjang dengan perpustakaaigan sebagai jangtungnya Universitas. Ini semua sebagai bagian dari akses untuk mewujudkan generasi terbaik. Sesungguhnya semangat membaca itu membuat kita berisi, menulis itu mengikat ilmu pengetahuan dan diskusi itu membuat kita siap. Kampus  (UM-Sorong) yang berkedudukan di negeri yang kaya akan minyak, memiliki nilai (value) tersendiri, agenda-agenda internasional, nasional dan regional selelu dipercayakan untuk menjadi motor penggerak atau dalam bahasa penulis kehendak atas kuasa (will of power). Kampus ini menerbitkan fajar baru kemanusiaan dan kebersamaan, langkah dan gerakan untuk mempersiapkan manusia-manusia unggul terutama menghadapi tantangan zaman dan kesadaran global, yang terus merasuki seluruh dunia. Kesadaran global atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan mengalami dentuman besar menuju dunia baru, pertarungan kualitas, kemampuan, finansial, network akan terjadi. Tiga item penting yang ditawarkan oleh komponen Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), pertama: aspek sosial budaya, Kedua: aspek ekonomi, Ketiga: keamanan. UM-Sorong sebagai institusi pencerahan harus siap dalam menyiapkan generasi-generasi unggul dan petarung “raksasa intelektual”. UM-Sorong selalu siap mengamalkan kalimat, “setiap permulaan dalam pemikiran adalah diakhiri dalam perbuatan”. [*]


Sumber: 
A.    Syaffi Maarif, dkk, Menggugat Moderenitas Muhammadiyah, Jakarta: Best Media Utama, 2010.
Ali Syariati, Sosiologi Islam (Pandangan Dunia Islma Dalam Kajian Sosiologi Untuk Gerakan , Barat), Yogyakarta: Rausyanfikir, 2011.
Alto Maktumuralto, Dalam Diam Kita Tertindas (Memperjuangkan Tata Dunia Baru), Gowa: Liblitera Institute, 2007.
Foucault, The archaeolgi of knowleoge, New York: row Publisher, 1976.
Haryatmoko, Dominasi Penuh Muslihat; Akar Kekerasan Dan Diskriminasi, Jakarta:  PT. Gramedia.
Murtadha Muthahhari, Manusia Dan Alam Semesta Konsep Islam Tentang Jagat Raya, Jakarta: Lentera, 2008.
Syamsu, Visi Dan Misi UNG Kampus Pelopor  Peradaban, 2010.
Wahyu Budi Nugroho, Orang Lain Adalah Neraka (Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Satre),Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2013.
Basri Amin, Catatan Di UG-Limboto :Tentang Kecerdasaan Intelektual, Dipresentasikan di Kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa UG, 11 Oktober 2009.
Bustamin W, Pemimpin Harapan; Melacaka Pemimpin Masa Depan Tidore, Koran Teropong Timur, 2015.

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Kamis, 24 Maret 2016 ,

0 komentar for "OPINI: Kampus Pencerahan (Universitas Muhammadiyah Sorong Titik Simpul Wujudkan Intelektual Papua)"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional