Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

OPINI: Pemimpin Harapan (Catatan dari Kampus)

“Menerjemahkan Kuasa dalam Perspektif Politik Lokal”


“Jika ingin kemakmuran 1 tahun, tumbuhkanlah Benih,
Jika ingin kemakmuran 10 tahun, tumbuhkanlah Pohon,
Jika inginkan kemakmuran 100 tahun, tumbuhkanlah (didiklah) Manusia”
(Nasehat Konfusius)


detiKawanua.com - Dinamika demokrasi yang terus mengalir, dengan harapan kualitas dan karakter demokrasi ke arah yang ideal. Gelombang skeptisisme sebagai daya kritis untuk mencari keparipurnaan konsep. Dalam formulasi kebijakan yang diambil oleh pemerintah dengan berbagai pertimbangan didasari azas legalitas, dalam desain sistem demokrasi yang lebih baik. Untuk Indonesia banyak bersepakat untuk melakukan pemilihan langsung dan itu yang terbaik.

Penulis sependapat dengan Basri Amin, bahwa demokrasi memang dibicarakan dimana-mana tetapi diselimuti dengan ketidakpastian, (yang) dipengaruhi oleh beberapa hal: Pertama, kepemimpinan politik dan figur-figur publik di berbagai tingkatan belum matang dalam “praksis demokrasi”; Kedua, institusi partai dan masyarakat sipil belum optimal sebagai transformator nilai dan mediator budaya politik yang beradab dan berkelanjutan; dan Ketiga, basis kebudayaan demokrasi di masyarakat belum tergali dan terwujud dalam proses edukasi yang terbuka dan partisipatif, dengan basis keteladanan yang otentik.

Baca juga: OPINI: Sowohi dan Politik Kekuasaan Tidore

Pemimpin ke depan (adalah mereka) yang membawa gagasan yang futuristik bukan sekedar menjadi pajangan simbol kekuasaan tanpa mewujudkan prestasi. Pemimpin masa depan membutuhkan perubahan paradigma kepemimpinan, sosok yang memiliki rencana strategis. Karena sesungguhnya merencanakan hal yang salah sama halnya dengan merencanakan kesalahan. Pemimpin masa depan adalah pemimpin yang berfikir melampaui ambang batas dan mengabaikan tradisi fragmen (saling sekat) antara sesama dengan membangun budaya perjumpaan sosial yang baik (homo homini social). Harapan bagaimana sosok pemimpin yang ideal selalu mendamaikan publik itu dan terhindar dari pertarungan politik Serigala (homo homini lupus).

Kuasa Pemimpin Baru

Dalam analisis kepemimpinan, tentu ruang dan relasi kuasa menjadi hal yang sangat penting, dan menjadi simpul dalam mendorong kepentingan praktis. Konteks politik kekinian, belum ada hasil penelitian yang membantah bahwasanya simpul kekuatan sosial sudah menjadi kekuatan besar dalam mendorong kepentingan politik. Kekuatan modal sosial (social capital) menjadi kekuatan politik dan doktrinal dengan berdalil pada tras sosial. Pandangan ini seiring dan membenarkan pandangan Ibnu Khaldun, semangat dan perekat sosial menjadi kekuatan baru dalam kehidupan, solidaritas sosial ('Ashabiyah). Tetapi itu bukan kuasa yang permanen dan abadi. Simpul dan kekuatan sosial itu akan berada pada puncak kejayaan dan akan mengalami lokus kehancuran, dan yang bertahan adalah kekuatan kualitas pengetahuan manusia atau kelompok intelektual dan pergerakan.

Khaldun, menggemborkan tentang kuasa pengetahuan. Kuasa pengetahuan menjadi lokus sentrum mendorong perubahan baru. Subjek pemimpin yang mengutamakan kekuatan pengetahuan adalah pemimpin yang bisa memberikan masa depan besar. Sensi pengetahuan dari sosok pemimpin menjadi penting, substantif dan fundamental. Penegasan relasi kuasa berada pada ruang dan dimensi sosial. Sulit dan ditemukan pemimpin yang bisa mengihlaskan dirinya untuk mendapat kritik dari dalam masyarakatnya. Jika itu bisa terjadi, maka sosok pemimpin tersebut adalah pemimpin yang berfikir melampaui dalam pandangan Avicenna.

Konsep opsosi yang ditawarkan oleh Ibnu Khaldun menjadi sistem solusi yang konstruktif dan progresif ala-sistemik. Sosok pemimpin harapan kedepan adalah pemimpin yang bisa menerjemahkan realitas sosial ini secara baik dan menggerakan gagasan besar yang futuruistik, pemimpin yang bisa menjawab persoalan pembangunan di tanah Papua.

Bagaimana dengan Papua Barat?

Para pemimpin terdahulu menjadi referensi pijakan untuk pemimpin ke depan. Di tanah Papua tidak membutuhkan pemimpin yang bicara berdasarkan mimpi bersar tanpa landasan episteme yang jelas. Tetapi dalam kepemimpinan ke depan adalah melahirkan manusia Papua yang bisa berbicara banyak tentang dunia dengan keahlian dan kemampuan. Kecerdasan kemodernan yang dimiliki para calon pemimpin menjadi harapan besar. Perumusan strategi pembangunan dengan sikap kebijaksanaan. Kerinduan jiwa ini untuk mendapat kebahagian (serta) kesejahteraan. Tetapi raga jasad ini tidak bergerak, makan pengharapan itu sulit dinantikan.

Catatan ini menjadi penting dan urgen, jika esai-esai sejarah tentang prestasi terdahulu dilihat kembali sehingga para kandidat radiks terhadap sejarah, bukan berarti kita terjebak dalam peristiwa lampau. Papua memiliki potensi yang luar biasa yang masih belum dikelola dengan baik, terutama hasil bumi dan potensi ekonomi rill. Basis ekonomi yang rill yang ada diharapkan bisa dipoles melalui kebijakan yang diambil, belum lagi kemestaan alam yang begitu indah di Raja Ampat (R4) mengundang kesadaran dunia untuk menyaksikan, menikmati keindahan.

Pemimpin masa depan membutuhkan perubahan paradigma kepemimpinan, sosok yang memiliki rencana strategis. Karena sesungguhnya merencanakan hal yang salah sama halnya dengan merencanakan kesalahan.  (Bustamin Wahid)

Sedangkan konteks kekinian, harus diakui bahwa Papua Barat (Kota Sorong) sebagai salah satu sektor strategis dan kebijakan tol laut sebagai simpul pergerakan ekonomi. Pemimpin harapan merupakan pemimpin yang bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki dari berbagai sektor dan mendorong peningkatan tingkat kesejahteraan melalui distribusi kebijakan strategis yang tepat.

Papua membutukan sentuhan yang berbeda dan lebih. Modal sumberdaya manusia (SDM) penting dikembangkan melaui institusi pendidikan dan kecerdasan kebijakan strategis, maka penting bagaiman pemimpin ke depan bisa memikirkan tentang pendidikan yang berdaya saing.

Harus dicatat dan diapresiasi sosok Bupati S. Malak, Bupati Kabupaten Sorong, dengan kebijakan pendidikan gratis. Mungkin sudah banyak kebijakan yang dilakukan pemimpin lain, tetapi untuk Papua kebijakan ini masih sangat minim dan kerdil. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lain adalah jantung dan rohnya sebuah daerah dalam melahirkan kekuatan dan modal sumberdaya manusianya. Papua bukan saja lumbung dan pusat pengerukan sumberdaya alam dan selalu disuguhkan geo-ekonomi (dengan menawarkan kemegahan relasi kelompok bisnis), geo-politik (racikan dan propaganda isu politik lokal yang menggandengan kekuatan tras masyarakat adat) semata. Tetapi pemimpin harapan sudah suatu keharusan mendorong geo-sains (sebagai simpul kekuatan intelektual).

Pemimpin harapan, menyediakan nalar polititik dan rasio kebijakan yang paripurna dalam mengelolah potensi, dan menyiapkan diri untuk menjemput peluang. Indonesia, klik kesadaran global atau MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), kekuatan ekonomi yang mengglobal ini nyaris tidak ada batas dalam hubungan. Maka menjadi penting adalah Papua telah menyiapkan apa? Kesiapan SDM di berbagai sektor sebagai suatau keharusan, 8 profesi akan bersaing (Insinyur, Arsitek, Akuntan, Pariwisata, Jasa Survei, Dokter Gigi, dan Perawat) dan penting menjadi titik fokus untuk persaingan integrasi ekonomi dunia.

MEA mimiliki motif efek pada sosio-ekonomi dan sosio-kultural, ikhtiar publik merindukan sosok pemimpin yang paham. Figur baru dengan gagasan, konsep yang segar dalam membuat pencerahan, tanda harapan pun terlahir kembali dan keluar dari pakem yang sempit untuk memiliki terobosan baru, ajakan semangat dan optimisme tinggi dari masyarakat. Semoga. (#)


Bustamin Wahid
Dosen Fisip UM-Sorong
Direktur Riset dan Publikasi Pasifik Recources Indonesia

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Senin, 21 Maret 2016 ,

0 komentar for "OPINI: Pemimpin Harapan (Catatan dari Kampus)"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional