Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

Menko Perekonomian: Reformasi Perikanan Harus Hidupkan Rakyat

Menko Perekonomian, Darmin Nasution saat Diwawancarai Awak Media pada Kunjungannya ke Lokasi KEK Bitung, Kamis (25/02). /Ist

Bitung, detiKawanua.com - Dalam kunjungan kerja ke lokasi KEK Bitung Kamis (25/02), Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution mengaku prihatin dengan keluhan para pengusaha kapal ikan dan pengalengan ikan di Kota Bitung.

Menurutnya, Industri Perikanan menjadi industri utama dalam KEK Bitung, selain industri pengolahan kelapa dan farmasi. Namun, reformasi di bidang perikanan harus menghidupkan rakyat, bukan sebaliknya.

"Saya akan membicarakan masalah industri perikanan di Kota Bitung, dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti," kata Nasution, ketika diwawancarai awak media di sela-sela kunjungannya ke Pelabuhan Peti Kemas dan Bitung Logistic Community College.

Baca juga:  Didampingi Wagub Sulut, Menko Perekonomian Pantau Pembangunan Tol Manado-Bitung dan KEK

Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution, era Pasar Bebas ASEAN (MEA), tidak akan berpengaruh banyak dengan industri perikanan. Karena harga ikan di luar negeri lebih mahal dibandingkan harga dalam negeri.

"Kita tak khawatir import ikan, tidak mungkinlah kita import ikan dari luar negeri, karena harga mereka pasti lebih mahal, secara ekonomis import ikan akan merugikan pengusaha perikanan," tegasnya.

Saat ini pengusaha kapal ikan di Kota Bitung, menambatkan alat tangkap di dermaga, karena pemberlakuan PP No 75/ 2015, tentang kenaikan tarif Pungutan Hasil Perikanan sebagai PNBP, sebesar 1000 %. Sejumlah pengusaha perikanan di Kota Bitung, bahkan akan menjual lahan dan cool storage, akibat kebijakan tersebut.

Berita menarik lainnya: Panwascam Keluarkan Rekomendasi PSU untuk Kecamatan Paal II

Diketahui juga, salah satu perusahaan pengalengan ikan terbesar di Kota Bitung, PT. Delta Pasifik Indotuna, telah import bahan baku ikan dari India dan Korea Selatan, dalam sebulan terakhir. Apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah strategis bagi industri perikanan, dipastikan Kota Bitung akan menjadi pengimport ikan terbesar di Indonesia. Karena pasokan ikan di Kota Bitung saat ini per hari sekitar 70 Ton, sedangkan kapasitas terpasang dari 7 perusahaan pengalengan ikan mencapai 620 ton/ hari.

Artinya setiap bulan (25 hari kerja) industri perikanan di Kota Bitung harus import 13.750.000 Kg, untuk mencukupi pasokan. Dengan asumsi harga ikan di Thailand dan Philipina saat ini Rp 17.400/ kg, ditambah pajak 5% menjadi Rp 18.270, yang setara dengan US$ 1,3 (asumsi US$ 1 = Rp 13.400). Devisa negara akan terkuras US $ 17,875 juta.

(*/Al)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Kamis, 25 Februari 2016 , ,

0 komentar for "Menko Perekonomian: Reformasi Perikanan Harus Hidupkan Rakyat"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional